Perihal Makna

Berkali-kali kupahami perihal makna dari sebuah kata. Ternyata sebuah kata dapat menciptakan ragam definisi yang berbeda jika dibaca dari beda kepala.


Ketika perihal rasa aku ungkap melalui rangkaian kata-kata. Aku merasa lega. Entah itu, rasa suka maupun duka. Mungkin tulisan itu tidak bermakna bagi mereka yang sedang tak merasa. Namun, bagiku tulisan itu tetap bermakna. Sebab, aku merasa, ada beban yang lepas tanpa dipaksa. Ada jiwa yang kemudian lapang ketika aku menuangkannya dalam sebuah cerita.
Jika berbicara perihal makna. Untuk saat ini dan beberapa hari yang lalu. Mungkin tulisanku hanya aku yang memahami maknanya. Atau mungkin ada dari kalian yang rela membaca lalu sedikit larut dalam tulisanku. Dan bertanya “apa makna dari tulisan ini yang sebenarnya?” Tak perlu kujawab. Hanya aku dan Tuhan yang tahu makna yang sebenarnya. Tuhan menjadi saksi bisunya. Niatku menulis itu untuk apa dan untuk siapa.

Ketika aku tak bermakna dimata manusia. Hanya pada Tuhan dan pada aksara aku mampu menceritakanya. Perihal makna dalam sebuah tulisan. Aku biarkan tulisanku menjadi sebuah kenangan. Bahwa aku pernah mengalami gejolak keresahan. Yang akan aku baca dengan senyuman; suatu hari nanti.

Untuk saat ini, memang karyaku belum benar-benar bermakna(positif). Namun, Bukankah semua butuh proses? Inshaa allah. Akan aku lewati fase-fase itu. Hingga tulisanku menjadi benar-benar bermakna bukan hanya di satu kepala.
Mohon Doa restunya..

 

Lani Utami

Sekotak Kenang

Rindu, tiba-tiba rindu itu datang, menghanyutkanku dalam lamunan yang panjang. Tetiba wajahmu membayang di remang senja. Kau tersenyum dan aku pun membalas senyumanmu.
Tanpa sadar hatiku mengajak bayangan itu berbicara..

Tuan, bagaimana kabar hatimu?

Semoga hatimu baik-baik saja, semoga tidak seperti aku yang sedang dilanda kelu dan kesah.

Tuan, ijinkan rindu ini sesaat mengenang, mengenang kita sempat terjebak jarak, hingga akhirnya memutuskan berpisah penuh sesak.

Kita memang satu atap namun kita beda ruang, jarak yang membentang pernah kita lewati penuh juang. Kita pernah saling berpegangan berjalan satu tujuan.

Tapi itu dulu, sebelum kau berpaling dan menghilang.

Tuan….

Kini, kita hanya dua insan yang tinggal di “sekotak kenang”, yang hanya bisa saling menyapa lewat bayang-bayang, hanya bisa saling mengenang ditemani kunang-kunang yang riang.

Tuan..

Tak usah kau datang (lagi) pergilah dengan tenang, tak usah hiraukan hatiku, nikmati saja sesalmu itu. Sebab hatiku, sudah tak inginkan lagi hadirmu.

Selamat tinggal tuan, kusimpan kau di “sekotak kenang”.
Bandung, 02 Februari 2017 | 18:25